Galaksi kita/Milkyway diselimuti oleh awan yang sangat tipis yang kita kenal sebagai awan antar bintang/interstellar medium. Selama ini medium tersebut terlihat seperti kumpulan gas yang dingin, layaknya sebuah reservoir gas statis yang menunggu dengan tenangnya hingga tiba waktunya mengalami kondensasi dan menjadi bintang baru. Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir seiring perkembangan ilmu Astronomi, kita bisa mengenali awan antar bintang ini sebagai sebuah medium yang terdiri dari kerapatan, temperatur, dan ionisasi yang sangat bervariasi.
Pengamatan dengan teleskop di Bumi memperlihatkan bahwa awan antar bintang ternyata tidak kalah kompleks dengan atmosfer planet. Medium ini dipengaruhi oleh gravitasi bintang-bintang dan materi lainnya, dipanaskan oleh cahaya bintang, partikel berenergi, dan medan magnetik. Karena berbagai aktivitas ini, medium antar bintang senantiasa mengalami transformasi yang berulang. Seperti layaknya atmosfer planet, kerapatan tertinggi terdapat di bagian paling bawah. Dalam hal ini bagian yang dimaksud adalah bidang galaksi, dimana tekanan harus mampu mengimbangi berat dari medium di bagian atas.
Ketika bintang kehabisan bahan bakarnya dan mati, bintang-bintang yang cukup masiv seperti matahari akan membuang sebagian besar materinya kembali menjadi medium antar bintang. Jadi tidak jauh berbeda dengan siklus air di Bumi, pengembunan akan selalu diikuti oleh penguapan, sehingga materi senantiasa mengalami daur ulang.
Akan tetapi memahami medium antar bintang sebagai sebuah atmosfer masih menyisakan banyak pertanyaan. Diantaranya, apa yang menyebabkan, kapan, dan seberapa cepat bintang terbentuk dari medium antar bintang. Serta konsekuensinya, bintang generasi yang bagaimana yang mampu menghasilkan medium antar bintang tempat lahirnya bintang-bintang baru.
Feedback ini bisa jadi positif atau negatif. Pada satu sisi, bintang-bintang bermassa besar akan memanaskan dan mengionisasi medium antar bintang sehingga menyebabkan medium tersebut ‘membengkak’. Ekspansi ini akan meningkatkan temperatur lingkungan, menekan awan antar bintang, dan mungkin saja menyebabkan terjadinya keruntuhan medium ini menjadi bintang baru. Di sisi lain, pemanasan dan ionisasi juga akan menggan gu awan antar bintang, mencegah kelahiran bintang baru. Pada saat bintang besar meledak, hal ini bisa menghancurkan awan antar bintang tersebut. Akan tetapi feedback yang negatif ini bisa menjelaskan kenapa keruntuhan gravitasi awan antar bintang menjadi bintang baru bisa jadi sangat efisien.











0 Responses to “Gas Antar Bintang (1)”