Turnamen ini pertama kali diperkenalkan pada Mei 1989, setelah IBF (sekarang BWF) pada 1986 menyatakan perlu adanya turnamen campuran (sebelumnya hanya ada Piala Uber dan Piala Thomas yang tidak menyertakan partai ganda campuran). Nama Sudirman mucul ketika PBSI mengusulkan nama tersebut untuk mengingat Dick Sudirman yang baru saja meninggal pada 10 Juni 1986.
Piala Sudirman diperebutkan setiap dua tahun sekali antar negara. Turnamen ini tidak menghadiahkan uang, tetapi pemain memperoleh poin ranking WBF dan prestisius.
Sang Piala dirancang oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memiliki lima bagian. Mahkota Sang Piala berbentuk candi kebanggaan Indonesia, candi Borobudur. Lalu badan piala berbentuk kok, dilapisi emas 22 karat dengan berat 600 gram. Pegangan piala berbentuk benang sari , lalu ada bentuk daun sirih yang melambangkan ucapan selamat datang, sedangkan alasnya menggunakan kayu jati dan berbentuk segi delapan arah mata angin. Piala ini dikerjakan oleh PT. Masterix Bandung dengan biaya sekitar Rp 27 juta (USD 15 ribu).
Kejuaraan piala Sudirman adalah satu-satunya kejuaraan bulutangkis internasional yang tidak memiliki babak kualifikasi. Setiap tim negara dibagi ke dalam tujuh grup sesuai prestasi mereka selama ini. Dengan demikian, hanya negara yang berada di grup 1 lah yang memiliki kesempatan untuk mengangkat sang Piala, sedangkan negara-negara di grup lain bertanding untuk meningkatkan level mereka dengan harapan suatu hari juga dapat masuk ke dalam grup 1.
sumber: komunitas Bulutangkis Indonesia (MBI)












0 Responses to “Piala Sudirman, Sebuah Kontribusi Fakultas Seni Rupa ITB”